Sanggar Seni Lodong Gejlig Sekar Galih Desa Mandalagiri Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya

Sanggar Seni Lodong Gejlig Sekar Galih Desa Mandalagiri

Lodong adalah alat yang digunakan oleh para petani ladang untuk “nyadap cai kawung” (mengambil air aren/nira), di masyarakat, air aren ini adalah bahan dasar untuk pembuatan gula yang selanjutnya di produksi oleh masyarakat sekitar desa tersebut, baik itu untuk kebutuhan konsumsi pribadi atau pembuatan dengan skala yang lebih banyak yang selanjutnya diperkenalkan dan memberi nilai materi.

Dalam hal kesenian Lodong Gejlig di kampung Sukatani Desa Mandalagiri Kecamatan Leuwisari tidak terlepas dari sosok Bapak Abas, karena beliaulah yang telah memberikan inspirasi bagi terlahirnya kesenian Lodong Gejlig saat ini, beliau adalah seorang petani yang mata pencahariannya sebagai seorang penyadap kawung (Mengambil Air Aren/Nira).

Sebelum melakukan penyadapan, bapak Abas selalu melakukan pengecekan terhadap alat lodongnya, yaitu dengan cara ngetrukeun (menghempaskan lodong ke tanah) dengan cara tersebut maka lodong akan menghasilkan bunyi yang cukup nyaring. Apabila lodong itu di hempaskan dan tidak menghasilkan bunyi, maka lodong tersebut tidak dapat di gunakan untuk menyadap, karena dapat di pastikan adanya kebocoran pada lodong tersebut baik sebabkan oleh adanya lubang atau lodong tersebut pecah.

 

Kegiatan bapak Abas tersebut tanpa disengaja terdengar salah seorang pemuda, ketika itu adalah bapak Elon Dahlan. Kemudian ia bertanya kepada Bapak Abas tentang bunyi yang dihasilkan oleh lodong tersebut, yang selanjutnya bapak Elon mencoba membuat replika lodong tersebut untuk kebutuhan bunyi-bunyian. Di masyarakat perkampungan, hiburan merupakan kebutuhan yang dianggap penting sebagai media refleksi dari rutinitas kehidupan, meskipun dilakukan dengan sederhana, entah itu hanya dengan pertunjukan sandiwara, atau hanya memainkan alat-alat musik seadanya akan tetapi memberikan kesenangan tersendiri bagi masyarakat.

 

Di masyarakat lama, profesi kenaikan sekolah agama (madrasah diniyah) sering menampilkan acara hiburan-hiburan yang semata diperuntukan bagi anak- anak, akan tetapi para orang tua pun tidak tinggal diam untuk tampil menghibur masyarakat, dari sanalah Bapak Elon mencoba untuk menampilkan bunyi lodong dengan diiringi gitar akustik. Ternyata bunyi lodong yang dipadukan dengan gitar dapat dinikmati oleh masyarakat hingga pada akhirnya setiap ada acara di masyarakat gitar dan lodong selalu ditampilkan, maka lahirlah kesenian TARDONG (Gitar Lodong).

 

Pada tahun 1991, Bapak Usep Tatan Turyana, S.Pd.,SD Meneruskan Seni Tardong ini dengan mencoba menambahkan instrumen lainnya, diantaranya angklung kecapi, suling, kendang bahkan saat ini instrumen barat seperti keyboard pun mencoba untuk dipadukan dengan alat lodong tersebut. Melihat dari teknik memainkannya alat ini dan juga mengacu pada bahasa sunda bahwa cara

membunyikan lodong tersebut adalah dengan cara digejligkeun (dihempaskan/dijatuhkan), maka Seni Tardong bagi Sanggar Seni Sekar Galih pimpinan Bapak Usep Tatan Turyana, S.Pd.,SD saat ini berubah nama menjadi kesenian Lodong Gejlig.

Adanya variasi dari jenis yang digunakan, berikut adalah deskripsi detail mengenai alat yang dipakai untuk pementasan suatu seni lodong gejlig pada Sanggar seni sekar galih diantaranya

1.Bambu Kecil

Ukuran kecil ini dipakai untuk perpaduan isntrumen dari nada paling rendah ke paling sedang. Ketika saat pementasan digabungkan dengan yang besar, sehingga membuat irama yang terinstrumental dengan aksi kreatifitas juga dari alat musik lain yang dikombinasikan dengan baik

 

2.Bambu Besar

Bambu yang dihasilkan dari bambu yang besar ini memungkinkan membantu nada rendah ke nada paling tinggi sehingga perpaduan dengan bambu kecil selaras dengan instrumental yang baik juga.

Alat Lodong Gejlig

Kesenian Lodong Gejlig Sanggar Seni Sekar Galih, adalah suatu komunis yang asli berasal dari Kampung Sukatani Desa Mandalagiri Kecamatan Leuwisari, yang telah mengalami pasang surut selama kurun waktu keberadaanya, namun eksistensinya masih dipertahankan mengingat masih adanya kebutuhan masyarakat terhadap kesenian ini, terutama untuk perayaan dalam suatu hajatan, atau untuk kebutuhan hiburan semata.

Seiring bergulirnya waktu Seni Lodong Gejlig Sanggar Sekar Galih senantiasa berusaha untuk mengikuti permintaan dari konsumen yang ingin menampilkan kesenian, hal seperti ini membutuhkan proses yang cukup panjang untuk pada akhirnya kesenian lodong gejlig dapat diterima disetiap lapisan masyarakat., akan tetapi Sanggar Sekar Galih tetap menjaga esensi dari nilai lokal tradisionalnya.

Pengaruh globalisasi saat ini telah berdampak besar pada perkembangan Seni di Indonesia khususnya seni tradisional, hingga pada akhirnya memberikan pemahaman yang seakan kesenian menjadi terkotak-kotak, adanya batasan dalam kesenian menjadi pemicu utama yang menyebabkan kesenian saat ini selalu terlahir terkesan premature (tidak sempurna), dari terjadinya hal tersebut adalah persaingan dikarenakan adanya tuntutan yang bersifat material.

Jika diteliti lebih mendalam, saat ini banyak kesenian yang tidak lagi berdasar pada identitas budaya lokal yang telah lama menjadi landasan dalam berlaku kesenian, sebagai salah satu contoh adalah yang banyak terjadi pada sajian musik saat ini. Sajian dari musik itu sendiri terkesan melenceng jauh dari karekteristik budaya. Banyaknya pelaku-pelaku seni yang telah masuk pada dunia industri, seolah enggan untuk menghadirkan informasi dalam karyanya.

 

Berkedudukan di Kabupaten Tasikmalaya di alamat kampung Sukatani, Rukun Tetangga 003, Rukun Warga 001, Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Mulai dan lamanya berdiri yang didirikian pada tanggal 2011 dan didirikan untuk waktu yang lamanya tidak ditentukan. Perkumpulan ini berdasarkan kekeluargaan dan berdasarkan UUD 1945.

Sanggar seni ini mempunyai visi yaitu Terwujudnya masyarakat sebagai masyarakat modern berbasis budaya yang bertumpu pada kekuatan dan keunggulan budaya lokal dan dapat menjadi lokomotif pembangunan secara menyeluruh.

Misi dari Sanggar adalah :

  • Mengoptimalkan potensi serta daya Tarik pariwisata dan budaya sebagai keunggulan kepariwisataan di
  • Menggali, melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan keragaman budaya lokal.
  • Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan masyarakat sekitar.
  • Meningkatkan koordinasi internal maupun antar mitra serta memperluas jaringan kebudayaan dan pariwisata di tingkat lokal dan nasional

Sanggar ini memiliki berbagai tujuan agar kesenian daerah terutama kesenian lodong gejlig yang terlahir disini mampu dikenal luas, diantaranya sebagai berikut:

  • Membina anggota masyarakat untuk maju bersama dalam mencapai kesejahteraan.
  • Memberi wawasan terhadap warga masyarakat dalam mengembangkan dan melestarikan seni budaya sunda terutama kaitannya dengan seni lodong
  • Melestarrikan (ngamumule) budaya sunda sebagai khasanah seni tradisional yang berasal dari daerah Tasikmalaya (wewengkong sukapura).
  • Memberikan hiburan kepada masyarakat dalam setiap kegiatan pementasan

Keanggotaan perkumpulan ini terdiri dari :

  • Anggota – anggota biasa, yaitu mereka baik pria maupun wanita yang oleh Badan Pengurus diterima sebagai anggota demikian dan membayar uang iuran
  • Keluarga, yaitu yang terdiri dari suami istri, anak – anak, saudara – saudara maupun rekan

Masyarakat di luar daerah Desa Mandalagiri ini memiliki pengetahuan lodong gejlig yang sangat kurang, dari hasil Analisa mereka tidak tahu akan adanya lodong ini ketika dulunya digunakan untuk memanen air arena tau Kesenian ini adalah asli budaya sunda yang harus dijaga. Dan masyarakat disekitar Desa Mandalagiri hanya sekedar tahu saja dan terhibur ketika melihat pementasan lodong gejlig.

 

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan